trading

Tahukah Anda bahwa di Indonesia per September 2017 terdapat 611.726 investor trading yang terdaftar. Diantara 611.726 ini hanya 200.600 yang ternyata aktif melakukan transaksi saham atau lebih kurang hanya sepertiganya.

Kenapa bisa demikian? Apa alasannya 2/3 lainnya tidak aktif bertransaksi? Bisa jadi mereka adalah investor yang memegang saham dalam jangka panjang? Atau bisa jadi mereka trauma?

Trauma kenapa? Pernahkah Anda mengalami, waktu Anda klik buy harga malah turun sehingga Anda rugi. Waktu Anda klik sell harga malah lanjut naik jauh lebih tinggi. Mungkin cerita ini familiar Anda hadapi atau terjadi pada kolega Anda.

Hal-hal seperti ini, jika tidak ditindaklanjuti akan mengakibatkan trauma terhadap saham sehingga mereka mulai “bodo amat” dan akhirnya sahamnya dibiarin saja dengan pasrah. “Toh nanti juga naik lagi.”

Pemikiran seperti ini sah-sah saja jika Anda belinya saham-saham blue chips di sector banking ataupun consumer yang memang kemungkinan besar akan naik terus.

Di bursa terdapat 500 lebih saham yang terdaftar dan Anda harus pintar – pintar memilih saham apa yang layak Anda beli. Bagaimana jika yang Anda beli tidak naik setelah bertahun-tahun dan Anda menderita kerugian yang lumayan?
Kira- kira kenapa hal ini bisa terjadi?

Not knowing price direction

Penyebab paling sering adalah karena Anda tidak tahu arah harga mau kemana. Jadi sebenarnya pada saat Anda trading, Anda seperti sedang melakukan ujian dengan pertanyaan “kemana harga akan bergerak? A. naik b. turun c. flat
Jadi tugas Anda sebagai seorang trader sebenarnya adalah memilih di antara abc itu kemana harga akan bergerak.Untuk bisa mengetahui arah harga mau kemana, Anda bisa perhatikan trend besarnya sedang mengarah kemana. Apakah trend besarnya naik? Kalau ya, ingat dow theory bahwa “price will maintain on the trend until definitive signal that it has ended” Artinya dalam trend yang naik, di akan cenderung naik terus sampai ada sinyal pembalikan arah.

Jika Anda menguasai teknikal analisis, Anda bisa lebih melihat sinyal-sinyal pembalikan arah yang mungkin sedang terjadi, seperti pola double top atau head and shoulders ataupun rising wedge yang Anda bisa pelajari di workshop Super Performance Trader.

Hold the losers

Anda rugi karena Anda cenderung sayang melakukan cut loss. Saham yang merugi itu ibarat benalu yang harus segera kita pangkas tidak peduli secantik apapun bentuknya. Mau itu BBRI atau BBCA sekalipun jika focus Anda adalah melakukan trading, maka Anda WAJIB cut jika harga tidak bergerak sesuai yang Anda harapkan. Jangan di hold!

Kebanyakan dari trader-trader yang masih baru dalam aktivitas trading cenderung membiarkan portofolionya terseret-seret tidak karuan sehingga seharusnya investasi di saham bisa memberikan hasil yang menguntungkan, malah membuat mereka stress.

Kenapa harus di cut?

Karena itu adalah bukti kerendahan hati Anda bahwa Anda juga bisa salah dalam menganalisa. Jadi menjadi seorang trader itu bukanlah trader yang selalu benar dalam setiap analisanya. Peter Lynch saja mengatakan “if you are good at this business (stocks), you probably right 6 out of 10.” Even fund manager legendaris sekelas Peter Lynch saja mengakui bahwa beliau tidak mampu benar 100%, hanya 60% saja kemungkinan dan itu sudah lebih dari cukup.

Selain itu, melakukan cut loss juga itu melindungi keuntungan Anda di masa depan. Sama seperti tadi, tidak mungkin 100% bakal untung, Anda juga tidak mungkin 100% bakal rugi! Jadi, akan ada saatnya Anda akan mulai panen tinggal Anda harus bersabar dulu sebentar.

Mindsetnya pada saat Anda cut loss bukanlah Anda sedang rugi. Tapi Anda melindungi keuntungan Anda di masa depan. Bisa dibayangkan sekarang saham Anda dibiarkan turun 30%, di masa depan ketika Anda untung 30% pada satu saham, Anda hanya impas atau break even istilahnya. Sedangkan jika Anda langsung tegas cut di 7%, ketika dimasa depan Anda untung 30%, maka Anda akan mencetak profit.

Price Range the Hidden Predator

Seringkali seseorang mengalami loss dalam trading, meskipun mereka mengetahui arah harga akan kemana tapi mereka tidak menyadari price range harga. Price range ini disebut juga dengan tingkat volatility dari harga dan seringkali diabaikan atau tidak disadari. Sebagai trader, Anda WAJIB mengetahui tentang range volatility dari saham yang Anda beli.

Maksudnya gimana?

Begini, jika Anda membeli saham X di harga 200 dan cut loss di 150, meskipun secara nilai rupiah nya ini adalah Rp 50, tapi secara persentasi, Anda cut loss 20%! Penurunan itu meskipun kelihatannya kecil hanya Rp 50, tapi hitungan cutloss nya sebenarnya adalah 20%. Bandingkan jika UNVR harga dari 65.550 naik ke 65.600, maka harga sebenarnya harga hanya naik 0.07%.

Maka gak heran jika saham berkapitalisasi kecil naik satu floor saja persentasenya bisa menyentuh 5%. Makanya di Gold Premium Access, kami selalu warning akan saham-saham yang memiliki volatilitas seperti ini. Kalau Anda siap ya tidak masalah sama sekali, silahkan.

Dan satu lagi, keputusan cut loss itu adalah keputusan yang harus Anda buat SEBELUM Anda klik buy, bukan setelah. Sebelum Anda buy, di dalam otak Anda sudah harus berasumsi kalau-kalau ini gagal bagaimana sehingga begitu gagal Anda sudah bisa langsung cut loss dengan lapang dada.

Guessing

Anda cenderung menebak tanpa dasar. “ah feeling gua dia akan naik” dan ternyata betul harga betul-betul naik seperti yang Anda feelingkan. Saya yakin, berikutnya Anda pasti akan melakukan apa kata feeling Anda lagi. Ya bisa saja satu atau dua kali Anda mendapatkan keuntungan, tapi bagaimana jika Anda ingin konsisten?

Feeling itu gampang berubah. Pagi-paginya bete, nanti siang setelah makan siang langsung happy lagi. Jadi feeling gampang berubah tergantung suasana hati, maka tidak heran jika Anda lakukan ini pada trading saham Anda, maka Anda pasti galau.

Market tidak peduli feeling Anda bagaimana. Market tidak peduli Anda perlu uang untuk bayar sewa. Market tidak peduli Anda mau nikah, dsb. Anda harus cerdik dan pintar, terlebih menjadi seorang trader harus tegas dan kekeuh pada pendirian dan hasil analisa.

Saran saya, Anda belajar terlebih dahulu. Pelan tapi pasti tidak apa apa daripada kecelakaan tengah jalan dan Anda bernasib seperti investor yang kapok setelah ditampar oleh market. Dengan memiliki ilmu, Anda tidak lagi menebak-nebak yang tidak karuan, tapi Anda menebak dengan tingkat keberhasilan yang tinggi.

Jadilah investor dan trader yang smart, yang memiliki ilmu dan yang profitable untuk keluarga Anda.

Salam Profit!

 

Join Premium Access Membership untuk mendapatkan benefit yang lebih banyak