“Saya mau trading saham, Cuma saya ingin cuannya cepet”

“Saya sibuk, ga ada waktu untuk mantau market, ada gak yah trading yang ga perlu dijagain terus?”

Kira – kira seperti itulah yang ada di benak Anda bukan? Apakah Anda yang atas atau bawah? Hehehe

Ada orang yang ingin cuannya cepet dan ada orang yang sibuk sehingga tidak bisa di depan monitor. Masing-masing memiliki keinginan dan preferensi pribadinya sendiri-sendiri. Ada yang ga berharap cuan besar-besar asal bisa profit taking lebih cepat mungkin karena menginginkan income tambahan. Ada yang tidak usah cepat-cepat yang jelas di akhir bisa profit besar.

Selama ini, di Ellen May Institute melalui Gold Premium Access mayoritas adalah menggunakan strategi trend following. Dimana dalam merealisasikan profit, dibutuhkan waktu beberapa bulan, biasanya dibawah setahun. Tapi sekali profit taking biasanya 2 digit ke atas bahkan hingga menyentuh 3 digit. Ini mindsetnya ibarat kerja proyekan. Tentu kerja proyek tidak bisa langsung kan? Tapi begitu proyeknya selesai profitnya banyak.

Karena kita melihat ada yang tidak mau hold sampai berbulan bulan, makanya kita buka satu portofolio untuk Anda para swing trader yang ingin profit lebih cepat. Dalam swing trading portofolio, ada target yang kita tentukan. Target tersebut biasanya akan dicapai dalam 1 atau 2 bulan. Lebih cepat kan?

Supaya Anda lebih paham, mari kita bahas lebih lanjut perbedaan swing trading dan trend following.

Trend Follower – Riding the trend until it breaks!

Contoh misalnya pada saham INDY di atas.

Seorang trend follower membeli di sekitar 950-1000. Kemudian akan hold saham INDY ini sampai trendnya patah. Salah satu indikasi trend patah adalah terjadinya penetrasi terhadap dari trendline seperti gambar di atas. Kalau dengan scenario di atas, beli di 950 dan jual di 2560, profit yang diperoleh adalah 270% dari bulan Agustus – Desember (4 bulan trading). Menjadi trend follower berarti Anda tidak terlalu peduli dengan naik turun jangka pendek hariannya, selama gambar besarnya masih naik Anda akan tetap hold saham tersebut.

Trend follower cocok untuk Anda yang sibuk dengan aktivitas Anda sehari-hari dan tidak memiliki waktu untuk memantau market dengan sering. Selain itu, Anda lebih suka berfokus pada gambaran besar dari pergerakan harga saham.

Swing Trading – Hit and Run

Dengan swing trading, Anda tidak hold dalam waktu lama. Anda hanya mengambil satu tarikan atau ayunan ke atas, makanya itu disebut swing trading. Fokusnya adalah mengambil tarikan tarikan ke atas.

Dengan scenario ini, profit yang Anda peroleh adalah:

1st trade: + 42.87% (12 hari)

2nd trade: + 15.84% (6 hari)

3rd trade: +16.65% (4 hari)

4th trade: +19.22% (19 hari)

Total profit: 94.58%

Loh profitnya lebih kecil dari trend following?

Iya, tapi lebih cepat profit takingnya. Rata-rata 15%-20% lah dalam satu kali trade yang berkisar 2-3 minggu.

Lumayan lah untuk tambahan penghasilan.

Kira-kira seperti itulah gambaran swing trading dan trend following.

Berikutnya, sebelum Anda memutuskan menjadi trend follower atau swing trader kita bahas terlebih dahulu plus minusnya.

Trend Follower (+)

  1. Profit persentase yang besar

Karena trend follower tetap hold saham sampai dia patah, jelas profitnya persentasenya bisa besar. Karena selama trend masih naik maka akan di hold terus sehingga potensi profitnya bisa puluhan bahkan ratusan persen.

  1. Tidak usah banyak memantau market

Karena fokusnya adalah jangka menengah, maka tidak perlu terlalu sering-sering memantau market

  1. Beban komisi tidak banyak

Trend Follower (-)

  1. Harus tahan liat cuan

Karena coba Anda bayangkan portofolio Anda sedang posisi +50%. Saya yakin di benak Anda pasti sudah gatel ingin segera profit taking. Bagaimana tidak, jika Anda beli dengan hanya Rp 100 juta saja, Anda sudah untung Rp 50 jt. Otak Anda pasti sudah berpikir “wah kalau duit segitu untungnya uda bisa untuk jalan-jalan ke bali nih!” Nah, disinilah Anda harus tahan nafsu Anda untuk tidak profit taking karena harus disiplin selama trend belum patah ya jangan keluar.

  1. Menyaksikan keuntungan menyusut

Seringkali ketika sudah untung 50%, 60%, 70% atau bahkan sudah 100% memang sudah timbul satu keinginan untuk profit taking. Tapi Anda memilih untuk tidak profit taking karena trend belum patah. Eh ternyata beberapa minggu kemudian trend terkonsolidasi dan patah dengan agresif. Untung Anda yang 100% tadi kempes menjadi hanya 40%.

Itu bisa saja terjadi dan jika Anda mau untung besar, Anda juga harus siap menyaksikan ini. Kesel sedikit boleh tapi jangan sampai dendam ke market sehingga bukannya menjadi super trader tapi malah Anda dilanda emosi dan melampiaskannya pada market lagi.

  1. Perlu waktu, sabar

Metode trend following ini memerlukan kesabaran untuk menunggu. Mindsetnya seperti kerja proyek. Anda bayangkan jika Anda mendapat tender sebuah proyek, pasti ga akan langsung selesai bukan? Perlu waktu, beberapa bulan baru proyek ini akhirnya menghasilkan.

Trend following juga demikian, perlu waktu dan berikan saham Anda ruang untuk bergerak. Karena memerlukan waktu, metode ini cocok untuk Anda yang menjadikan saham sebagai sarana untuk megumpulkan modal atau sebagai penghasilan tambahan tahunan. Tidak cocok untuk Anda yang ingin untung rutin bulanan.

Swing Trader (+)

  1. Profit taking lebih cepat

Menjadi seorang swing trader, Anda berfokus pada satu tarikan ke atas. Satu tarikan (swing) ini, bisa bervariasi dari beberapa minggu sampai 1-2 bulanan. Anda bisa expect profit taking di range 10%-25%.

  1. Profit lebih aman

Karena Anda memiliki target untuk profit taking, Anda berarti langsung mengamankan profit yang Anda dapat begitu targetnya kena. Terkadang bisa saja Anda tidak lama setelah itu harga berbalik dan Anda sudah kantongi profitnya sedangkan trend follower mendapat untung yang lebih sedikit karena ini.

Swing Trader (-)

  1. Harga bisa lanjut naik lebih tinggi setelah Anda profit taking.

Anda tersenyum lebar karena sudah profit taking, kemudian beberapa hari setelahnya Anda menyaksikan harga naik dengan sangat kencang. Anda pun menyesal andaikan Anda tidak profit taking, mungkin untung Anda jauh lebih besar dari ini.

  1. Ketika terjadi loss beruntun

Berbeda dengan trend following, swing trading bisa saja terjadi beberapa kali loss beruntun dalam waktu dekat. Disini Anda juga perlu bertahan pada metode Anda. Begitu sudah terjadi 3x cutloss, lebih baik Anda istirahat dan libur terlebih dahulu dari market. Jangan sampai terseret-seret dalam emosi untuk balas dendam. Menjadi trader yang baik adalah trader yang tahu kapan harus berhenti dan betul-betul libur dari market.

Begitulah perbedaan swing trading dan trend following. Sekarang Anda pilih Anda lebih cocok kemana. Ingat, tidak ada strategi yang paling bagus, yang ada adalah strategi yang paling cocok.

Salam profit.