Setelah Santa Claus Rally, Bagaimana Peluang Saham di Januari 2018?

Akhir tahun bulan Desember merupakan saat-saat yang ditunggu oleh hampir kebanyakan orang. Selain momen Natal dan tahun baru, bagi investor di Desember terjadi fenomena Santa Claus Rally yang cenderung mengangkat harga saham di penghujung bulan Desember.

Apa yang sebenarnya yang disebut dengan Santa Claus Rally? Mengapa fenomena ini biasa terjadi?
Santa Claus Rally adalah sebutan bagi fenomena yang terjadi bagi pasar saham yang cenderung melejit di penghujung tahun. Disebut Santa Claus Rally, karena dikaitkan dengan momen Natal di akhir tahun dan sosok Santa Claus yang memiliki karakter suka bagi-bagi hadiah.

Mengapa Santa Claus Rally bisa terjadi? Apa penyebabnya?

Santa Claus Rally terjadi salah satunya adalah karena aktivitas window dressing. Apa yang dimaksud dengan Window Dressing ?

Window Dressing adalah sebuah strategi yang seringkali digunakan oleh manajer investasi reksadana dan juga berbagai pihak yang mengelola portofolio, di penghujung tahun atau di penghujung setiap kuartal untuk mempercantik kinerja portofolio sebelum disajikan ke nasabah atau ke pemegang saham.

Bagaimana proses window dressing ini dilakukan?

Proses window dressing ini dilakukan dengan cara menjual saham yang rugi besar dan membeli saham yang cantik di akhir tahun atau di akhir kuartal. Dengan demikian, voila… portofolio saham menjadi kembali cantik.

Hal inilah yang menjadi penyebab mengapa volatilitas saham cenderung cukup besar di penghujung tahun, bahkan sejak bulan Oktober sampai Desember. Tidak jarang pada bulan Oktober – November banyak saham yang tiba-tiba jatuh dalam dengan volume transaksi tinggi.

Siapa yang bisa menggerakkan harga saham dengan volume tinggi kalau bukan “duit besar” alias institusi, yang mungkin saja salah satunya adalah para pengelola portfolio / asset management.

Bagaimana dengan 2018 ini?

Sampai dengan artikel ini dirilis IHSG masih terus meroket dan bertengger di atas target yang pernah kami sebutkan beberapa waktu lalu (6300), dan kini IHSG berada di level tertinggi sepanjang masa, yaitu di angka 6314. Hal ini berarti IHSG sudah tumbuh sekitar 19% lebih year to date, atau sejak awal tahun 2017.

Saham-saham apa saja yang meroket?

Seiring dengan menguatnya IHSG, tentunya saham-saham berkapitalisasi besar turut memberi andil. Beberapa saham berkapitalisasi besar datang dari 2 sektor yang menjadi penggerak indeks, yaitu sektor perbankan dan sektor consumer goods.

Beberapa saham yang mendongkrak IHSG antara lain BBRI, BMRI, BBNI, HMSP, serta UNVR.

Jika kita flashback lagi, saham perbankan sejak awal bulan Januari 2017 sampai hari ini menorehkan prestasi 36%, dan disusul sektor barang konsumsi menguat sekitar 21.6 % year to date.

Selanjutnya bagaimana prospek IHSG dan kedua sektor tersebut?

Bagaimana pula dengan saham-saham dari sektor lainnya?

Trend naik yang cukup kuat pada sepanjang tahun 2017 ini terbilang wajar baik secara teknikal ataupun fundamental, mengingat Indonesia sedang dalam masa recovery setelah perlambatan perekonomian pada 2015 – 2016 yang lalu.
Dan trend naik ini masih akan berlanjut pada Januari 2018 mendatang, bahkan hingga kuartal pertama tahun 2018.
Meski demikian, saya tetap menyarankan supaya Anda waspada memasuki pertengahan tahun 2018, di mana ada potensi terjadi ayunan / koreksi harga turun yang cukup besar, melihat siklus hutang jangka panjang secara global, di mana berdasar sumber yang kami dapat dari IMF dalam meeting pada bulan Oktober 2017 yang lalu, hutang negara-negara berkembang membengkak, demikian pula hutang dari negeri tirai bambu yang membengkak.

Selain faktor tersebut, kami juga mewaspadai faktor siklus 10 tahun, di mana pasar saham seringkali mengalami puncaknya di tahun yang diakhiri dengan angka 7 dan mengalami koreksi / kejatuhan cukup tajam setelah itu.
Bagaimana dengan sektor lainnya?

Sektor pertambangan, khususnya minyak, masih akan atraktif dan berpotensi membawa harga minyak ke level $80-$90 per barel. Hal ini juga akan memberi peluang bagi saham sektor pertambangan, minyak dan gas untuk berfluktuasi dan bisa dilirik untuk trading. Demikian pula sektor batubara dan juga Crude Palm Oil yang seringkali mengekor pergerakan minyak karena menjadi substitusi dari minyak.

Sektor barang konsumsi berpotensi untuk menguat di tahun politik 2018. Pemerintah akan terus mendorong konsumsi masyarakan untuk naik karena tahun 2017 ini konsumsi masyarakat cenderung lesu dan stagnan. Momen politik dan juga ASEAN Games akan meningkatkan spending pemerintah dan masyarakat, yang semestinya akan mendorong peningkatan pola konsumsi masyarakat lebih boros, dan membuat perekonomian semakin panas. Hal ini dapat berdampak positif terhadap sektor barang konsumsi.

Selain itu sentiment positif dari pihak pemeringkat seperti Fitch yang menaikkan rating Indonesia menjadi BBB dari semulanya BBB-. Hal ini merupakan angin segar bagi pasar modal Indonesia karena di mata internasional, Indonesia sudah layak investasi sehingga dana-dana besar dari fund management raksasa bisa mulai melirik saham kita. Imbasnya ini akan menambah likuiditas pasar saham kita.

Jika pasar masih akan menguat di awal 2018, bagaimana selanjutnya? Apa yang sebaiknya kita lakukan sebagai trader dan investor?

Bagaimana strategi trading dan investasi untuk saham-saham berkapitalisasi besar di awal tahun 2018 mendatang?
Bicara tentang trading dan investasi adalah 2 hal yang sangat berbeda meski kendaraannya sama-sama saham, bahkan bisa jadi saham yang dipilih oleh trader dan investor pun sama.

Bagi trader, naiknya saham dalam jangka pendek dalam beberapa hari sampai beberapa bulan merupakan sebuah peluang, terlepas dari bagaimana kondisi perusahaan tersebut.

Dengan demikian, peluang untuk trading masih bisa Anda dapatkan dari saham-saham berkapitalisasi besar ini.
Sebenarnya untuk trading sendiri, kami tidak terlalu favoritkan saham-saham big caps yang cenderung bergerak steady, melainkan justru di Premium Access kami dapatkan banyak profit dari saham-saham second liner yang datang dari perusahaan yang bertumbuh, yang justru kapitalisasinya tidak terlalu besar.

Meski demikian, untuk seorang pemula, kami pun terkadang merekomendasikan saham berkapitalisasi besar yang seringkali menjadi setir buat IHSG, karena cenderung low risk, meskipun juga low reward untuk trading.

Namun bagi investor, yang memiliki horizon waktu lebih besar (beberapa tahun) memiliki strategi yang berbeda. Saya pribadi tidak terlalu menyarankan Anda untuk sebagai investor memborong saham di puncak seperti saat ini.

Mengingat wejangan dari Warren Buffett “be greedy when others are fearful, and be fearful when others are greedy”, maka sebaiknya bagi investor jangka panjang, saat ini merupakan momen untuk menikmati hasil investasi dari saham yang sudah ia beli sejak beberapa tahun yang lalu ketika pasar saham berada di level terendah, ketika dulu banyak orang ketakutan membeli saham, yaitu pada tahun 2015, 2013, dan juga 2008.

Jadi bagaimana kalau saya ingin memanfaatkan bullish market seperti saat ini?

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya bahwa saat ini bukan saat yang tepat bagi long term investor untuk memborong saham. Bagi investor sekali lagi, saat ini merupakan saat yang tepat untuk menikmati, bukan memborong.
Kecuali Anda mengkoleksi saham dengan strategi nabung saham yang memang tidak peduli timing (Anda bisa baca di buku Nabung Saham Sekarang, bisa beli di toko buku Gramedia terdekat).

Jika Anda ingin membeli saham, selain nabung saham, maka strategi yang tepat saat ini bukanlah borong untuk investasi namun beli dengan bijak (bukan sekedar borong) dengan trading, beli jual jangka pendek.
Bagaimana caranya trading?

Jika Anda ingin dapatkan bimbingan trading setiap hari secara gratis, Anda bisa dapatkan Kopipagi di telegram dengan klik t.me/ellenmayinstitute dan bit.ly/sayamaukopipagi .

Untuk dapatkan bimbingan trading yang lebih intensif dan realtime, serta komunikasi 2 arah melalui webinar online setiap pagi, Anda bisa daftar sebagai member premium kami di bit.ly/goldpremiumaccess atau hubungi 082220747576
Selamat tahun baru 2018, semoga di tahun baru 2018 ini kita bisa semakin lebih banyak belajar dan practice sehingga bisa dapatkan lebih banyak profit untuk mengubah hidup banyak orang.

We make money, we change lives!

Salam profit,
Ellen May

Please follow and like us:

You might also like More from author

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.