Pada hari ini, pemerintah berencana merilis pemerintah akan merilis peraturan DMO yang sudah dicanangkan sejak awal tahun kemarin. Seperti apakah beritanya? Lalu, bagaimanakah efeknya ke saham batubara? Simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Pemerintah akhirnya sudah mantap menetapkan harga batubara acuan (HBA) alokasi untuk pasar lokal atau domestic market obligation (DMO). Ada sejumlah poin penting yang tertuang dalam peraturan baru itu, diantaranya:

  1. Pemerintah menetapkan harga batu bara acuan (HBA) untuk PLTU dalam range US$70-US$60 per ton. Apabila harga global dibawah US$70, maka harganya akan disesuaikan lagi sesuai HBA.
  2. Penetapan harga khusus tersebut akan berlaku sejak 1 Januari 2018 hingga Desember 2019 dan berlaku surut. Artinya, kontrak-kontrak penjualan yang sudah berjalan sejak 1 Januari 2018 harus disesuaikan kembali.
  3. Kementerian ESDM menetapkan jatah pembelian maksimal oleh PLN untuk batu bara bagi PLTU dalam negeri sebanyak 100 juta ton atau sesuai dengan kebutuhan batu bara untuk pembangkit yang tidak melebihi 100 juta ton per tahun.

Sekilas, jika Anda melihat berita ini mungkin akan langsung menyimpulkan bahwa adanya peraturan ini akan berdampak negatif terhadap pergerakan saham mining, terutama batubara saat ini.

Namun, Anda harus ingat, bahwa wacana penerapan DMO ini sudah dicanangkan sejak awal tahun 2018 ini dan harga saham mining saat ini sudah price in.

Artinya? Adanya kejelasan dari peraturan DMO ini justru akan membuat para investor tidak lagi wait and see, dan membeli saham mining yang sudah terkoreksi cukup dalam.

Terutama jika Anda melihat poin-poin dari peraturan tersebut, ada beberapa poin positif yang tersembunyi.

  1. Jika harga batubara global jatuh di bawah US$70 per ton, maka saham emiten batubara tinggal mengurangi ekspor dan memperbanyak impor untuk kemudian dijual di domestik. Hal ini akan mengurangi potensi anjloknya harga saham akibat penurunan harga batubara.
  2. Porsi penjualan batubara terhadap PLN yang terbesar dipegang oleh PTBA (65%), INDY (25%), ADRO (20%) dan ITMG (11%), sedangkan emiten mining lainnya tidak akan terpengaruh oleh peraturan ini.

Sebagai tambahan, poin utama kecemasan pasar bukan lagi soal besaran harga acuan batubara lokal yang ditetapkan. Namun, pasar menunggu transparansi perhitungan harga tersebut dan detail kebijakan lainnya.

Hal ini penting menurutnya untuk mengurangi ketidakpastian di pasar. Jadi, ketika peraturan ini keluar, hal ini justru akan memberikan kejelasan terhadap para investor dan tidak lagi wait and see.

Secara umum, efek kebijakan DMO ini tidak akan menimbulkan potensi kerugian bagi emiten produsen batubara. Hanya saja, potensi pertumbuhan margin keuntungan produsen batubara menjadi terbatas.

Secara sektoral, view kami untuk saham mining saat ini masih positif. Permintaan batubara sendiri saat ini masih aman, dengan rentang pergerakan harga untuk tahun 2018 di US$ 90-US$ 110 per ton.

Untuk rekomendasi sahamnya sendiri, saat ini saham ITMG akan cukup diuntungkan dari peraturan tersebut. Pasalnya porsi ekspor ITMG jauh lebih besar dibandingkan porsi penjualannya terhadap PLN, yakni hingga sekitar 90%.

Informasi merupakan salah satu senjata yang sangat penting dalam aktivitas jual beli saham. Anda tentunya ingin mendapatkan informasi yang berkualitas bukan?

Dapatkan berbagai informasi saham baik fundamental maupun teknikal secara akurat, hanya di di premiumaccess.id/web