Omaha, 6 Mei 2019

“Ellen, kamu ngapain sih jauh2 ke Omaha? Kan bisa lihat Berkshire Meeting dari internet aja? Toh, kamu trader, ngapain belajar dari Berkshire Meeting?”

Ungkapan ini pernah terlontar dari seorang rekan yang mempertanyakan “perjuangan” saya jauh-jauh terbang ke Omaha, Nebraska buat belajar langsung dari The Legend.

Adalah rahasia umum kalau saya lebih banyak melakukan aktivitas trading jangka menengah, dengan cara membeli dan menyimpan saham selama trend harga jangka menengah naik, dan menjualnya seketika trend harga saham jangka menengah berbalik arah.

Dan sudah banyak orang tahu bahwa saya bukanlah pecinta long term investing dalam membeli saham.

Sebelum saya menjawab pertanyaan di atas, saya mau cerita dulu, mengapa saya trading, dan bagaimana saya trading.

Ada beberapa alasan, mengapa saya lebih suka trading. Alasan utama adalah fleksibilitas, kapan saya masuk dan yang terpenting kapan saya harus keluar ketika terjadi sesuatu hal yang negatif. Antisipasi sedini mungkin.

Antisipasi yang saya lakukan dalam membatasi risiko dalam trading saham, sangatlah sederhana. 5 poin utamanya adalah :
1. Modal awal : berapa modal awal yang digunakan, harus uang dingin dan start small supaya kita feel good ketika membatasi risiko dan ketika untung nggak euphoria
3. Exposure : menentukan berapa banyak uang dari modal utama yang boleh dipakai. Kalau market mulai melemah, kami pakai hanya maksimal 25%. Kalau market mulai bagus, kami pakai 50-75%. Boleh dibilang cukup konservatif.
4. Total Risk : berapa banyak risiko yang bisa ditanggung dari keseluruhan portofolio. Penting banget. Misal Anda mulai dengan uang 100 juta, rela rugi berapa? Kalau kita rela rugi hanya 3% artinya kalau kerugian mencapai Rp 3 juta, harus stop trading.
5. Stop loss : kerugian per saham harus dibatasi, maksimal sekitar 5% untuk big caps dan 7 % untuk saham yang lebih volatil. Anyway, harus disesuaikan juga dengan posisi secara teknikal. Kalau angka beli ke angka stop loss lebih dari 7%, jangan dibeli, jangan kejar harga.
6. Jumlah saham : untuk retail, maksimal jumlah saham 5 saja. Kalau trend harga saham lagi bagus-bagusnya, boleh lah 10 saham. Namun sebaiknya jangan lebih dari itu.

5 poin itu selalu saya ulang-ulang di berbagai artikel, video, seminar, dan menjadi materi SAKRAL buat yang mau mulai trading saham. Saking sakralnya, saya merasa harus mengulangnya sebelum saya membahas topik utama di artikel ini 🙂

Okay! Sekarang saya jawab pertanyaan yang dilontarkan teman saya tadi.

Ngapain saya ke Omaha? Padahal saya trader?

Jawaban saya simple : nah emangnya nggak boleh ya kita belajar banyak hal?

Prinsip penting buat saya adalah : keep open minded!

Saya bukan orang yang suka dengan strategi Value Investing untuk saham. Kenapa? Karena buat saya strategi trading follow the trend LEBIH MENGUNTUNGKAN.

Well sekali lagi, saya tekankan : buat saya. Kenapa? Karena saya tahu ada banyak orang yang sangat cinta strategi long term investing. Nggak salah, kalau kita suka satu strategi.

Yang salah adalah, kalau mata kita tertutup dan tidak bisa menempatkan setiap strategi dalam posisinya masing-masing, dan tidak bisa objektif.

Buat saya pribadi, memang untuk jual beli saham saya lebih memilih strategi trading, dengan fokus strategy pada analisis supply demand, almost full technical analysis.

Dan… saya, tidak menutup diri, untuk menjadi seorang investor, dengan belajar dari sang investor legendaris.

Prinsip saya, belajar selalu dari yang terbaik. Buat saya, Warren Buffett, adalah yang terbaik dalam hal ini.

Dalam pandangan saya, ada beberapa hal yang membuatnya unik dan berbeda dari orang-orang yang mengaku dirinya value investor dan pengagung strategi investasi jangka panjang yang belum tentu paham inti dari apa yang dilakukan The Oracle of Omaha.

Warren Buffett, sosok yang saya lihat sendiri di depan mata saya, LEBIH dari sekedar investor saham. He is a business person. Saya ulang sekali lagi, he is a great business person.

Ketika beliau bilang, jangan beli saham, tapi beli bisnis, he meant it!

Masih bingung apa artinya? Apa bedanya dengan investor saham jangka panjang pada umumnya?

Begini. Ketika Buffett bilang beli bisnis, ini bukan sekedar kata-kata indah. Beliau benar-benar membeli perusahaan tersebut dalam jumlah yang sangat sangat besar!

Hal ini memberi keuntungan besar buat Buffett. Ia dapat deal harga spesial, BUKAN harga di pasar reguler. Ia dapat harga di bawah nilai wajar, dan ia dapat hak-hak lebih yang investor awam nggak punya.

Well, kalau cuma mau ngikutin beliau beli saham apa sih bisa… tapi kita belum tentu bisa dapatin harga seperti yang beliau dapat dan hak-hak istimewa yang menambah pundi-pundit uangnya.

Dan, karena beliau punya kepemilikan dalam jumlah yang sangat besar, beliau punya hak dalam manajemen untuk memberikan suara / sumbangsih dalam manajemen perusahaan. Dan beliau melakukannya.

Bisakah investor retail melakukannya?

Warren Buffett, buat saya adalah sosok businessman sejati. Saya mau mengikuti jejaknya. Tapi bukan asal beli saham / value investing. Saya ingin ikuti jejaknya memiliki sebuah holding company dengan anak perusahaan yang berkualitas, profitable, di level harga terdiskon.

Kalau sudah bicara menilai perusahaan, pastilah saya akan menggunakan analisis fundamental.

Hehhh? Ellen May pakai analisis fundamental?

Lah iya dong. Analisis teknikal, buat dapatin capital gain dari kenaikan harga jangka pendek – menengah, untuk menilai aktivitas suplai demand.
Analisis fundamental, buat beli bisnis (inget, beneran beli bisnis, bukan sekedar beli saham).

Saat ini saya selalu belajar, dan berusaha untuk belajar (dalam hal apapun) dan juga dalam analisis perusahaan, KEPADA YANG TERBAIK.

I want to have conviction.

Jadi, saya nggak malu untuk bilang ke teman saya yang seorang fund manager reksadana terbaik, untuk belajar pada beliau. Pun kepada teman saya yang guru CFA, dan juga berguru langsung pada sang maestro bisnis, Warren Buffett.

Ngantuk dan jet lag pun dikuat-kuatin buat nyimak dua engkong (Charlie Munger dan Warren Buffett) yang bicaranya udah nggak begitu jelas.

So… balik lagi, kenapa jauh-jauh belajar ke Omaha?

Karena buat saya, hidup adalah untuk make progress. Dan untuk make progress, kita harus belajar.

Motto saya kalau merasa nggak bisa / sulit adalah : push yourself a little bit, the hard thing will become easier !

Siapa orang yang paling kasihan sedunia?

Bukan mereka yang tidak punya uang atau miskin. Namun orang yang merasa pintar dan tidak perlu belajar, adalah orang paling kasihan sedunia, karena ia akan berhenti bertumbuh.