Putra bungsu Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kaesang Pangarep setelah bisnis kuliner camilannya yang diberi nama Sang Pisang laris manis, membuat dia tertarik untuk berinvestasi. Menariknya, investasi yang dia pilih adalah saham.

“KALO MAU BELAJAR INVESTASI PASAR SAHAM DIMANA YA!!! MOHON INFONYA!!!!,” cuit akun Twitter @kaesangp, Senin (6/5/2019).

Dan cuitannya pun viral di media sosial serta diberitakan oleh salah satu media nasional Bisnis Indonesia Senin kemarin. Mendapat tautan itu, Kaesang pun menanggapi dengan positif serta menyebarkan agar orang lain tertarik untuk berinvestasi saham.

“BIAR ORANG LAIN PUN MAU BELAJAR SAHAM JUGA,” katanya lagi dalam tautan akunnya.

Saya sebagai praktisi saham tentu saja menganjurkan ke Ellen May Institute. Perusahaan milik saya yang bergerak dalam dunia saham, yang sudah mempunyai pengalaman puluhan tahun. Dengan didukung trainer-trainer kami yang berpengalaman.

 

Mengapa Berinvestasi Saham?

 

  1. Imbal hasil yang didapatkan tinggi

Berdasarkan data dan hasil riset yang didapatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 10 tahun terakhir instrumen investasi saham menempati urutan pertama dengan keuntungan (return) sebesar 269,45 persen. Kemudian, disusul oleh Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT) dengan imbal hasi 238,12 persen.

Dan diikuti obligasi negara sebesar 223,70 persen di posisi ketiga. Posisi keempat diduduki Reksa Dana Campuran dengan imbal hasil sebesar 217,57 persen disusul kemudian Reksa Dana Saham 211,82 persen.

Sementara investasi emas berupa logam mulia memberikan imbal hasil sebesar 193,36 persen. Angka ini lebih tinggi daripada deposito yang tercatat memberikan keuntungan sebesar 189,72 persen dan tabungan 126,97 persen. Itupun sudah dipotong untuk biaya administrasi.

 

  1. Fleksibel

Transaksi berinvestasi saham mempunyai kelebihan, yakni bisa dilakukan di mana saja alias mobile. Cukup melalui gadget saja saham yang telah dibeli bisa diamati dengan disiplin dan penuh kesabaran. Lain halnya dengan investasi properti yang memang menguntungkan namun tidak fleksibel cara transaksinya atau tidak likuid. Karena tidak dapat diperjualbelikan tiap saat.

 

  1. Modal Saham Dimulai dari Nominal Terkecil

Investasi saham bisa loh dimulai dari modal yang sangat kecil. Seberapa kecil? Tergantung batasan minimal setoran modal awal pada setiap sekuritas atau brokerage. Ada yang menentukan setoran awal berkisar Rp2 juta, bahkan bermodalkan Rp100 ribu pun juga bisa tergantung sekuritas yang dipilih oleh para investor atau trader. Anak Jokowi saja mau berinvestasi saham masa kalian generasi milenial masih mau foya-foya?