Strategy Praktis Investasi Saham

Setelah Anda tahu siklus apa yang terjadi saat ini, kini saatnya Anda mencari strategi yang paling tepat dipakai.

Ada beberapa strategi investasi, seperti value investing, growth investing, GARP investing dan Dollar Cost Averaging.

Keempatnya memiliki keuntungan dan kekurangan masing-masing. Dengan membaca artikel ini, Anda akan mendapat satu gambaran mana strategi yang paling cocok diterapkan saat ini dan mana yang paling sesuai dengan kepribadian Anda.

Dengan Anda mengetahui hal tersebut, investasi Anda akan jauh lebih profitable. Jadi, sebenarnya investasi itu simple, seperti Anda belanja. Ya, belanja di mall atau supermarket dan Anda pilah pilih barang yang Anda akan masukkan ke dalam keranjang.

Untuk memasukkan saham ke dalam portfolio, tentu tidak bisa dilakukan dengan sembarangan asal feeling-feeling saja. Diperlukan strategi, persis ketika Anda mau belanja Anda memiliki daftar belanjaan apa yang mau dibeli dan sudah di budget sejak awal.

Mari kita mulai  strategi investasi yang pertama.

Value Investing

Value investing  adalah membeli saham premium di harga murah. Seperti membeli BMW harga Avanza. Atau pernahkah Anda ketika mau belanja baju-baju, Anda berpikir lebih baik tunggu lebaran saja, atau akhir tahun karena biasanya ada diskon.

Strategi value investing itu persis seperti ini, Anda menunggu saham-saham bagus “turun gunung” atau jatuh harganya untuk kemudian Anda borong dengan harga murah.

Tapi, Anda harus tahu mana saham yang bagus dan tidak bagus. Karena di bursa ada banyak saham yang kelihatannya murah, tapi belum tentu layak untuk dibeli. Yang kita inginkan adalah saham-saham yang bagus, tapi murah.

Salah satu strategy yang simple dalam menentukan saham ini murah/mahal adalah dengan menggunakan konsep Price to Earning Rationya (PER).

PER adalah menghitung harga saham suatu perusahaan dibandingkan dengan pendapatan perusahaan. PER mengindikasikan berapa besar investor bersedia membayar setiap rupiah atas pendapatan perusahaan tersebut.

PER= Price : Earning Per Share (EPS)

 

 

Sebagai contoh mari kita bandingkan 2 saham pada sector yang sama :

Perusahaan A memiliki saham yang harganya Rp 10.000 dan mampu menghasilkan laba Rp 500 per lembar sahamnya. Maka, P/ER nya = Rp 10.000/ Rp500 = 20

Perusahaan B memiliki saham yang harganya Rp 1.000 dan mampu menghasilkan laba sebesar Rp 20 per lembar sahamnya. Maka, P/ER nya = Rp 1.000 / Rp 20 = 50.

Dari 2 contoh di atas kita bisa menyimpulkan bahwa PER perusahaan A adalah 20 dan PER perusahaan B adalah 50. Hal ini menunjukkan bahwa harga saham perusahaan B lebih mahal daripada saham perusahaan A, meskipun harganya lebih murah.

Seorang value investor harus memiliki prinsip kalau ia membeli perusahaan bukan semata-mata membeli saham. Nilai dan kinerja perusahaan dalam jangka panjang yang harus diperhatikan juga timing membeli sahamnya.

Growth Investing

Berbeda dengan value, growth investing tidak mencari saham yang murah. Akan tetapi growth investing mencari saham yang sedang bertumbuh. Jika di value kita menunggu perusahaan bagus “turun gunung” di strategi growth investing kita mencari saham yang sedang naik daun dan berkembang serta giat berekspansi.

Growth Investor berfokus mencari keuntungan dari kenaikan harga saham bukan dari dividen saham karena pada umumnya, perusahaan yang sedang bertumbuh masih membutuhkan dana untuk melakukan ekspansi dan meningkatkan produktivitasnya. Selain itu, perusahaan yang bertumbuh ini harus memiliki proyeksi pertumbuhan pendapatan yang kuat selama 5 tahun mendatang.

15% minimal pertumbuhan laba adalah standart dari perusahaan yang bertumbuh. Kekurangan dari growth investing adalah resiko yang lebih besar yang setimpal dengan potensi keuntungan yang diraih dalam jangka waktu yang relatif lebih singkat.

GARP Investing

Garp Investing adalah sebuah strategi kombinasi dari Value dan Growth Investing, yaitu mencari perusahaan yang memiliki potensi pertumbuhan laba yang besar namun saat ini nilainya sedang terdiskon. Strategi yang sering dianggap “nanggung” ini tetap berfokus pada pertumbuhan sebuah perusahaan dan laba positif dalam beberapa tahun terakhir dan ke depannya juga. 10-20% pertumbuhan pendapatan adalah angka yang realistis bagi para Garp Investor.

Nabung Saham

Ini merupakan strategi paling simple dan anti ribet sehingga cocok untuk Anda yang masih pemula dalam berinvestasi.

Strategi menabung saham / lebih dikenal dengan istilah Dollar Cost Averaging (DCA) adalah strategi investasi membeli saham secara periodik dengan jumlah nominal yang tetap.

Strategi ini sangat mudah digunakan, bisa diterapkan pada reksadana juga saham. Sebagai contoh, Anda menginvestasi di saham BBCA dengan jumlah 20 juta setiap 2 bulannya secara konsisten.

Kelebihan strategi nabung saham ini adalah mudah digunakan dan cocok untuk pemula, selain itu melatih kebiasaan menabung secara konsisten bagi investor.

Kekurangan dari strategi ini adalah hasilnya tidak bisa dinikmati langsung, dibutuhkan waktu yang panjang dan kesabaran untuk menikmati buat investasinya nanti.

Untuk menerapkan strategi nabung saham ini, saham-saham yang Anda pilih haruslah saham-saham perusahaan yang sudah mapan yang beresiko kecil. Karena jika salah beli saham yang terlalu gorengan, bisa-bisa Anda nyangkut karena dibutuhkan waktu yang panjang agar nabung saham ini bisa berbuah.

 

Nah mau tau saham-saham apa saja yang bagus untuk nabung saham? Pre oder now, buku “Nabung Saham Sekarang”. Buku ini mengulas tuntas strategy nabung saham dengan simple dan bisa Anda terapkan langsung setelah baca bukunya. Beli di bit.ly/bukunabungsaham

 

Please follow and like us:

You might also like More from author

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.

 

Please follow and like us: