Bijak Berinvestasi Dengan Pahami Siklus Ekonomi

Segala sesuatu dalam hidup kita ini senantiasa berulang, dalam sebuah pola. Seperti halnya musim yang silih berganti, dari kemarau menjadi penghujan… dari musim dingin menjadi musim semi, berganti menjadi kemarau, dan kembali ke musim gugur yang menyambut dinginnya salju yang akan kembali datang.

Demikian pula, pagi dan malam silih berganti, dan terus berulang.

Tahukah Anda… perekonomian juga mengalami perputaran, dan mengalami perubahan fase yang terjadi berulang-ulang secara historis naik dan turun membentuk sebuah pola yang teratur, alias membentuk cycle/siklus.

Menariknya, perubahan fase naik dan turunnya kondisi perekonomian ini, terjadi dalam rentang waktu tertentu yang seringkali bisa diprediksi.

Kita bisa mendapat manfaat yang besar dengan memahami siklus bisnis / ekonomi ini, yaitu … terhindar dari kerugian besar dalam berinvestasi, terutama ketika pasar saham sedang terpuruk, dan justru bisa mendapat keuntungan besar dengan membeli saham-saham yang murah.

Tidak hanya manfaat saat berinvestasi saham.

Dengan memahami siklus perekonomian, kita bisa melakukan aset alokasi dalam keseluruhan bidang bisnis, dengan memindahkan aset dari tempat yang berisiko, menuju ke instrument yang lebih menguntungkan sesuai dengan siklus yang terjadi saat itu.

Salah satu trader yang cermat memanfaatkan perubahan siklus adalah Jesse Livermore. Waktu itu, ketika terjadi crash pasar ssaham terbesar sepanjang masa di tahun 1929, ia justru mendapat keuntungan dengan melakukan short selling, di kala banyak orang bangkrut.

Memahami siklus bisnis dan perekonomian ini penting supaya kita bisa mengambil keputusan investasi yang tepat.

Jadi, seperti apa siklus bisnis, dan bagaimana cara mengenalinya?

Saat ini kita masuk dalam siklus apa? Bagaimana sebaiknya kita berinvestasi dan trading saham saat ini? Di mana kita sebaiknya meletakkan uang kita saat ini?

4 Fase Siklus Bisnis dan Ciri-Cirinya

Siklus bisnis terbagi menjadi 4 macam, dan masing-masing memiliki karakteristik yang unik.

1.      Expansion / Early Recovery

Diawali dengan pelemahan hingga titik terendah, expansion hadir pertama kali perokonomian mulai menguat.

 

Oleh karena itu, awal periode ditandai dengan pesimisme terhadap perkonomian.

 

Hal ini dilihat dari level inflasi masih belum terlalu tinggi, namun sudah mulai ada tanda perbaikan dari deflasi. Level GDP / Gross Domestic Product mulai meningkat yang artinya sedang mulai berkembangnya kesejahteraan penduduk di negara tersebut.

 

Nah, apa itu GDP?

 

Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product) adalah total nilai produksi barang dan jasa di dalam suatu negara selama satu tahun. Artinya adalah nilai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh para penduduk, yang dapat menunjukkan kondisi ekonomi negara saat itu.

 

GDP merupakan salah satu indikator penting digunakan oleh para ahli ekonom untuk melihat perkembangan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara, apakah mengalami kenaikan, stagnan atau justru menurun.

 

Jadi, periode ini juga bisa disebut sebagai periode recovery atau pemulihan.

 

Selanjutnya harga  saham pun mulai bertumbuh. Skeptisisme investor mulai berkurang dan optimisme terhadap pasar saham meningkat, mendorong minat investor saham dalam membeli saham semakin besar. Naiknya demand membuat harga saham menjadi terus meningkat.

 

Selain itu, dengan membaiknya kondisi perekonomian juga membuat risiko gagal bayar hutang menjadi semakin kecil, dan bank pun lebih leluasa untuk meminjamkan hutang dengan bunga yang rendah.

Hal ini mendorong roda perekonomian untuk berputar semakin kencang.

Year 2007 2008 2009 2010 2011
GDP Growth 6.3 6.0 4.6 6.2 6.2

 

Contohnya adalah di tahun 2009-2012 ini. Seperti kita tahu 2007-2008 merupakan fase kelam ekonomi dunia dan Indonesia terkena dampaknya. Tahun 2009, GDP Indonesia mulai perlahan naik setelah krisis.

Tahun 2010 GDP kita naik dengan signifikan. Bisa Anda perhatikan chart IHSG di samping, ketika 2009 saham mulai naik dengan kencang.

2.      Peak/Boom

 

Jika pada masa expansion pelaku pasar masih skeptis terhadap perekonomian, masa peak atau boom merupakan masa paling menyenangkan.

 

Siklus ini ditandai dengan pertumbuhan GDP. Selain itu jumlah pengangguran berkurang sehingga pengeluaran dan daya beli masyarakat meningkat. Akibatnya tingkat inflasi meningkat.

 

Pada siklus ini, berita-berita bagus mulai masuk di pasar yang menambah optimisme masyarakat. Hampir semua pelaku pasar baik trader maupun investr merasa pintar luar biasa karena apapun yang diinvestasikan bertumbuh dengan signifikan. Akhirnya para pelaku pasar menjadi euphorai dan tidak objektif lagi.

 

Tanpa disadari, pertumbuhan GDP mulai melambat, lowongan pekerjaan mulai berkurang, dan pertumbuhan investasi mulai melambat. Namun, pelaku pasar masih euphoria sehingga tidak waspada akan kondisi pasar yang sudah mulai jenuh beli. Di saat itulah perubahan trend dimulai.

 

Secara analisa teknikal, pola bearish reversal atau perubahan dari bullish ke bearish mulai terlihat. Pemerintah terpaksa menaikka suku bunga demi menjaga kestabilan ekonomi dan tingkat kepercayaan investor mulai menurun.

 

Biasanya sektor yang diuntungkan di siklus ini adalah sektor energi, consumer dan industri jasa.

 

Siklus ini terjadi sebelum kejatuhan pasar di tahun 2008. Saat itu IHSG sempat membentuk all time high. Akan tetapi kenaikan IHSG tidak bertahan lama dan malah segera setelah itu, IHSG ambruk. Bagian berkotak biru merupakan puncak dari kenaikan IHSG.

 

Di akhir siklus ini pertumbuhan ekonomi melambat dan mulai masuk ke siklus selanjutnya.

 

3.      Contraction / Recession

Pertumbuhan ekonomi melambat dan level penjualan serta produksi mulai menurun. Oleh karena itu, perusahaan terpaksa mengurangi pekerja dan mulai dilakukan pengurangan tenaga kerja. Pengangguran mulai meningkat dan penerimaan rumah tangga menurun. Akhirnya, daya beli masyrakat berkurang.

 

Siklus ini menyebabkan pertumbuhan GDP negatif dan tingkat inflasi melemah.

 

Di pasar saham sendiri, trend turun terus berlanjut ditandai dengan kejatuhan harga. Harga turun dengan prosentase dan volume besar yang pertama di pasar setelah trend naik jangka panjang, yang biasanya terjadi sekitar pertengahan tahun, sekitar bulan April, Mei atau Juni.

 

Secara analisa teknikal, muncul tanda-tanda bearish continuation pattern.

 

Sektor yang diuntungkan dalams iklus ini antara lain sektor jasa, utilitas dan transportasi.

4.      Trough / Depression / Market Bottom / Full Recession

 

Siklus yang keempat memasuki masa resesi dimana terjadi depresi baik pada pasar dan ekonomi. Beberapa perusahaan yang tidak bisa bertahan terpaksa bangkrut dan pengangguran kembali meningkat.

 

Masa ini adalah masa yang sulit untuk pebisnis dan para pengangguran, semakin sulit mencari pekerjaan. GDP rendah, suku bunga jatuh, tingkat kepercayaan consumer mencapai titik terendah.

 

Sedangkan di pasar saham, kondisi ini ditunjukkan dengan turunnya harga mencapai level terendah, ditandai dengan adanya crash yang cukup besar, seperti pada tahun 2008 bulan Oktober, sekitar September 2013 dan akhir September 2015. Periode ini merupakan masa puncak pesimisme. Pada periode ini pasar saham diwarnai dengan semua berita negatif.

 

Di fase ini, para contrarian yang cerdas mulai masuk dan memborong saham-saham bagus dengan harga murah. Para contrarian ini biasanya merupakan seorang Value Investor.

Secara analisa teknikal, pola yang terbentuk biasanya merupakan pola bullish reversal seperti yang terjadi pada 2009, terbentuknya pola reversal double bottom yang mengangkat IHSG naik dengan signifikan.

Nah, di fase inilah Anda seharusnya mulai masuk untuk menikmati kenaikan di fase selanjutnya. Seperti yang sudah kita tahu, siklus akan selalu berulang.

 

2017, Fase Yang Mana?

 

Jika melihat data diatas, pada tahun 2017 ini kita sudah memasuki periode Peak/Boom. Hal ini terutama bisa dilihat dari indeks IHSG kita yang saat ini sedang berada dalam kondisi puncaknya di level 5800-5900.

Kondisi ekonomi Indonesia triwulan I-2017 terhadap triwulan I-2016 juga terlihat masih bertumbuh 5,01 persen (y-on-y) dibandingkan capaian triwulan I-2016 sebesar 4,92%. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 9,10 persen. Sedangkan dari sisi Pengeluaran dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa yang tumbuh 8,04 persen.

Namun, kami melihat bahwa kondisi IHSG saat ini masih akan terus meningkat dan mencapai puncaknya pada tahun 2018 nanti. Hal ini terutama ditandai dengan proyeksi GDP pada akhir tahun nanti yang masih akan meningkat sebesar US$977 miliar, dengan pertumbuhan  Ytd mencapai 5,3%.

Lalu, benarkah tahun 2018 nanti IHSG akan kembali mengalami crash, akibat siklus tahunan seperti tahun 1998 dan 2008 kemarin? Mari kita lihat terlebih dahulu data berikut ini.

Indikator ekonomi 1998 2008 2017
Pertumbuhan ekonomi -13,10% 4,12% 5,3%
Inflasi 82,4% 12,14% 3,72%
Cadangan devisa US$17,4 miliar US$80,20 miliar US$129,40 miliar
Kurs rupiah Rp16.650/US$ Rp12.650/US$ Rp13.519/US$
Rasio utang pemerintah terhadap produk domestic bruto (PDB) 100% 27,4% 28%
Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross 30% 3,8% 3,14%
BI Rate 60% 9,5% 4,25%
Indeks harga saham gabungan (IHSG) 256 1.111 5919
Total utang luar negeri (Pemerintah dan swasta) US$150,8 miliar US$155,08 miliar US$339 miliar
Rasio utang luar negeri terhadap cadangan devisa 8,6 kali 3,1 kali 2,6 kali
Depresiasi rupiah (posisi terendah) 197% 34,86% 4,03%

Jika melihat data diatas, kondisi maupun data ekonomi Indonesia masih lebih baik dibandingkan pada saat krisis keuangan yang menyebabkan kejatuhan IHSG pada tahu 2008 maupun 2015 kemarin.

Nah, apakah crash akan terjadi di tahun 2018? Jangan ketinggalan webinar khusus untuk warga Telegram Channel t.me/ellenmayinstitute dan member Premium Access pada Kamis 12 Oktober 2017 nanti. Stay tuned di telegram channel Anda yah.

 

 

 

Please follow and like us:

You might also like More from author

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.

 

Please follow and like us: