IHSG Terkoreksi, Investor Asing Net Sell, Apakah Sudah Saatnya Retail Jualan?

Walalupun sempat menembus level all time highnya, IHSG kembali melambat. Perlambatan ini juga diikuti oleh aksi net sell investor asing yang sejak awal April 2017 sudah mencatat net sell.

Apakah benar melambatnya pergerakan IHSG akhir-akhir adalah akibat keluarnya dana asing  di indonesia? Lalu, bagaimanakah nasib IHSG kedepannya? Simak penjelasannya berikut ini.

Tahukah Anda bahwa porsi kepemilikan asing di pasar saham Indonesia selama 5 tahun terakhir cukup besar, hingga lebih dari 50%. Ini berarti investor asing memiliki peran cukup penting terhadap pergerakan pasar saham, terutama IHSG. Jika dilihat selama 5 tahun belakangan, biasanya ketika investor asing membukukan aksi net buy, IHSG pada umumnya bergerak naik. Sebaliknya, jika investor asing membukukan net sell, IHSG cenderung terkoreksi.

Akan tetapi, tahun in terjadi anomali. Terhitung semenjak bulan May 2017 hingga sekarang, investor asing telah membukukan net sell hingga Rp 37,3 triliun.  Di sisi lain, IHSG sejak May 2017 masih menguat 3,1%.

Apa sebenarnya penyebab kenaikan IHSG tersebut?

Investor Asing Net Sell, IHSG Masih Menguat

 

Seperti yang kita ketahui, di tahun 2017 ini, Indonesia memiliki banyak sekali sentimen positif. Misalkan saja seperti keberhasilan tax amnesty, kenaikan peringkat investment grade dan bahkan pemangkasan suku bunga hingga 2x dalam setahun ke level 4,25% yang merupakan level suku bunga terendah dalam sejarah Indonesia.

Nah, sentimen dalam negeri inilah yang membuat para investor domestik mulai mengambil alih dominasi di pasar saham. Hingga Juli 2017 kemarin, porsi kepemilikan investor lokal di pasar modal sebesar 52,54%, sedangkan investor asing hanya 47,46%.Padahal, tahun lalu pada periode yang sama, investor lokal hanya memegang 42,07% dan pemodal asing mendominasi dengan porsi 57,93%.

Ada indikasi peralihan dari kepemilikan asing ke domestik inilah yang berhasil menopang kenaikan IHSG selama ini.

Lalu, apa penyebab investor asing keluar dari pasar saham Indonesia?

Mengapa Investor Asing Terus Net Sell?

 

Berdasarkan data dari Bloomberg, PER IHSG mencapai 15.5 kali. Sementara itu, pasar saham saat ini rata-rata masih memiliki PER di level 13 kali. Ada indikasi investor asing merasa bahwa IHSG sudah terlalu mahal dibandingkan dengan pasar saham regional lainnya.

Selain itu, keluarnya investor asing dari Indonesia tak terlepas dari ekspektasi investor terhadap pasar global. The Fed mulai melakukan trim down balancesheet atau aksi mengurangi neracanya. Hal ini  mengakibatkan likuiditas di pasar berkurang sehingga yield obligasi di Amerika Serikat naik. Ini berpotensi membuat capital outflow dari emerging market seperti Indonesia.

Membaiknya outlook politik, data ekonomi Amerika dan kebijakan pajak Trump yang sudah mulai memasuki tahap akhir juga membuat investor asing lebih memilih untuk kembali berinvestasi di kampung halamannya.

Kebijakan pajak Trump sendiri untuk memangkas pajak korporasi hingga 15% akan segera diterapkan paling lambat akhir tahun ini. Hal ini membuat beberapa perusahaan Amerika di Indonesia satu per satu mulai melepas asetnya di Indonesia.

Contohnya saja seperti ConocoPhilips, ExxonMobil dan yang terbaru adalah Chevron yang melelang 25% sahamnya di blok south Notuna Sea blok B.

Nah, meningkatnya outlook ekonomi Amerika serta IHSG yang terlalu tinggi merupakan beberapa sebab investor asing melakukan net sell. Bagaimana dengan pasar obligasi?

Investor Asing Net Sell di SBN?

 

Sebelumnya, setelah keluar dari pasar saham, investor asing sempat masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN). Hal ini terlihat dari kepemilikan asing terhadap SBN pada september lalu yang mencapai Rp826,27 triliun yang merupakan level tertinggi untuk tahun ini.

Namun, hingga 9 Oktober kemarin, jumlah tersebut berkurang menjadi Rp808,34 triliun atau menurun Rp17,93 triliun dari angka sebelumnya. Dari data tersebut, berarti asing tidak hanya keluar dari pasar saham, akan tetapi juga mulai keluar dari pasar SBN.

Apakah dengan keluarnya asing dari Indonesia ini akan membuat IHSG terus melemah?

Saat ini mata pelaku pasar tertuju pada rilisnya data GDP Indonesia pada akhir Oktober nanti dan juga beberapa data penting seperti inflasi, kestabilan harga komoditas, percepatan pembangunan infrastruktur dan stabilnya kondisi politik dalam negeri. Selain itu, beberapa emiten juga masih akan merilis laporan keuangan kuartal III tahun 2017.

Secara teknikal, IHSG dalam jangka menengah masih uptrend. Namun dalam jangka pendek IHSG mulai melambat dan terkonsolidasi. IHSG masih akan bergerak dalam uptrend jangka menengahnya jika masih berada di atas level 5800.

Nah, bagaimana dengan pelemahan IHSG pada perdagangan hari ini? Saat artikel ini ditulis IHSG melemah 0,59% di level 5871.

Pelemahan IHSG ini sebenarnya berasal dari pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar seperti HMSP dan TLKM. HMSP sendiri duduk di peringkat kedua saham dengan kapitalisasi pasar kedua tertinggi dengan bobot 6,86%. Sementara TLKM menduduki peringkat ketiga dengan bobot 6,82%.

Oleh karena itu, wajar jika pelemahan kedua saham ini ikut menekan pergerakan IHSG hari ini.

Jadi, apakah kita ini saatnya kita investor retail untuk jualan?

Saat ini untuk trading saham-saham blue chips masih lambat dan cenderung terkonsolidasi. Apalagi saham TLKM hari ini breakdown support diiringi dengan net sell investor asing.

Walaupun melambat peluang trading tetap ada! Bagaimana menyikapi pasar saat ini? Peluang apa yang ada di pasar saham saat ini?

Join Webinar gratis untuk warga Telegram Channel t.me/ellenmayinstitute dan member Premium Access:

“Strategi Investasi dan Trading Hadapi Tantangan Ekonomi dan Pasar Saham” with Miss Ellen May

pada Kamis 12 Oktober 2017

Stay tuned di t.me/ellenmayinstitute !

Please follow and like us:

You might also like More from author

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.

 

Please follow and like us: