Bear Market Strategies
Last Updated on Wednesday, 16 May 2012 17:30 Written by Administrator Wednesday, 16 May 2012 17:11
Bear Market
Meskipun kita tau Bear Market atau penurunan dalam market itu memang harus terjadi sebagai balancing dari bull market,namun jarang sekali org mennyambut Bear Market dgn sukacita.
Pada masa bear,harga2 turun tajam dan seringkali orang berat melakukan stop loss, atau terlambat stop loss,apa pun alasannya,hingga akhirnya sahamnya nyangkut / rugi cukup dalam.
Tidak ada seorangpun yang suka portofolionya rugi,hampir tidak seorang pun suka akan bear market.
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan Bear Market ? Bear market berbeda dengan koreksi / penurunan2 yang bersifat sementara. Pada masa bear market terjadi aksi jual massive, tekanan jual cukup besar. Biasanya terjadi selang waktu 3-5 tahun. Hal ini sebenarnya wajar terjadi karena siklus bisnis / sektoral pada primary cycle. Stelah masa uptrend sekitar 3 tahun ,orang2 yang melakukan aksi beli di bawah pada masa resesi 3 tahun sebelumnya, mulai melakukan profit taking.
Contoh : pada masa 2008 terjadi bear market cukup dalam, dan pada akhir tahun 2008 terjadi tanda reversal. Pada tahun 2011 – 2012 market cenderung mengalami koreksi dalam siklus primary dikarenakan investor yg membeli pd th 2008 sudah mulai profit taking, selain juga factor psikologis akan kekuatiran investor akan kondisi makro Uni Eropa saat ini.
Bear market bisa diartikan sebagai tekanan jual / penurunan yang cukup berkepanjangan dalam market, bukan sebagai penurunan yg sementara. Pesimisme cukup besar pada masa bear,merupakan masa Early Recession (cek kultwit #RotasiSektor atau #SiklusSektoral). Sangat berbahaya jika Anda ingin melawan bear market dan melakukan aksi beli dlm jumlah besar.
Apa sebenarnya yang terjadi saat Bear Market ? Bagaimana cara mengatasinya ?
Panic Selling
Pada masa bear market seringkali terjadi panic selling. Apa itu panic selling ? Pada masa panic selling,investor melakukan penjualan saham dalam jumlah yang besar biasanya dikarenakan oleh factor emosi murni (rasa takut), dan bukan karena faktor fundamental. Hampir semua crash pada market, merupakan hasil dari panic saling. Oleh karena itulah,diberlakukan system auto rejection yang membatasi penurunan harga saham akibat panic selling (dan juga sebaliknya, membatasi penguatan harga saham yang tidak wajar).
Falling Knife / Pisau Jatuh
Penurunan harga secara tajam dengan volume besar, yang disebabkan baik oleh factor fundamental ataupun panic selling, dapat cukup berbahaya bagi trader / investor pemula. Seringkali investor / trader pemula merasa bahwa harga yang sudah turun tajam sudah cukup murah untuk dibeli, namun kenyataannya masih turun lebih lanjut dan lebih lanjut seperti saham AALI yang turun tajam dari level 21450 hingga 18900 selama 4 minggu terakhir ini (-11%).
Hal ini bisa membahayakan investor. Sebaiknya, jangan tangkap pisau jatuh, namun tunggu terjadi tanda2 pembalikan arah / reversal sign. Apa saja tanda pembalikan arah ?
Reversal Sign
Tanda pembalikan arah dalam market bisa berupa batang candle ataupun pola grafik. Contohnya ?
Contoh tanda pembalikan arah adalah :

1. Candlestick : spinning tops, doji, atau inverted hammer dsb. Akan lebih baik jika ada 1 candle bullish yang muncul setelah tanda pembalikan arah tersebut. Contohnya seperti ini :
Akan sangat baik ketika muncul bullish candle disertai dengan volume yang meningkat / spike, hal ini berarti daya beli mulai menggeliat.

2. Tanda pembalikan arah dari turun menjadi naik bisa juga dengan munculnya pola V(Victory) atau W(Winning). Maksudnya apa ?
Artinya terbentuk sebuah pola pada dasar penurunan yang mirip dengan bentuk huruf V atau W.
Contohnya seperti ini :
Biasanya tanda pembalikan arah berupa candle sifatnya lebih minor, lemah, sementara, dan berguna utk jangka pendek / daily.
Tanda pembalikan arah berupa V atau W shape pada grafik sifatnya lebih kuat dan valid.
Demikian beberapa tips untuk menghadapi bear market / penurunan tajam. Tetap tenang dan objektif. Selalu ada kesempatan di balik setiap situasi.
Salam profit,
Ellen May
Artikel terkait : Panic Selling Strategies


























